Pandu Ibuku

Imajinasi Lailatul Qodar (2)

Imajinasi Lailatul Qodar (2) Jadi Orang Saleh Di rumahku aku hanya tinggal berdua dengan istriku. Tiga anak-anakku tinggal di rumah mereka masing-masing bersama-sama dengan keluarga mereka. Aku hidup bersama istriku sudah semenjak 55 tahun yang lalu. Usia kami - aku 80 lebih sedikit dan istriku kurang sedikit dari 80. Barangkali akibat dari sering berpikir - artinya lebih dominan di pikiran dibandingkan di perasaan - pada situasi-situasi tertentu aku lebih mengedepankan kesabaran dari pada meluapkan perasaan. Dengan bertindak begitu aku sering mengingatkan istriku manakala ia lagi tinggi emosi. Ia sudah menjadi pelupa untuk tidak mengatakan pikun. Memang ia tidak pikun. Memasak, menata alat-alat rumah tangga dan bersih-bersih rumah adalah hal-hal yang bisa diandalkan yang dimilikinya. Pada beberapa waktu yang lalu, ketika adikku yang salah satu menantunya menjadi perwakilan BPIH di Jeddah mengajakku untuk berumroh mandiri, aku langsung mengiyakannya. Dan sesungguhnyalah kami sangat memanfaatkan waktu yang cukup lama berada di Tanah Suci itu - lima pekan - untuk beribadah seoptimal-optimalnya. Mendirikan sholat berjamaah di masjid manakala tidak ada udzur (halangan) itu sudah menjadi semboyan yang aku amalkan secara rutin. Qiro'atul Quran (membaca Al Qur'an) lebih aku intensifkan. Yang tadinya hanya sekedar membaca, aku intensifkan dengan membaca terjemahannya sekaligus ayat demi ayat. Mengaji langsung dalam pengajian umum memang agak kurang, namun sebagai penggantinya aku menyimak pengajian-pengajian dari ustadz-ustadz pilihan di YouTube. Bersodaqoh sewajarnya menurut kemampuanku sebagai seorang pensiunan aku lakukan secara rutin. Pilihanku jatuh kepada orang-orang yang menurutku sangat membutuhkannya, seperti para marbot masjid, satpam RW dan orang-orang miskin. Iktikaf selama sepuluh hari terakhir bulan Romadhon memang tidak aku lakukan. namun sebagai penggantinya aku melakukan iktikaf selama satu bulan Romadhon penuh dari jam satu-an hingga waktu sholat shubuh di masjid. Selama waktu itu, aku mendirikan sholat tahajud, berdoa dan wiridan seperlunya serta menyiapkan makan sahurku bersama istri.