Pandu Ibuku

AJI MUMPUNG WAY - 1

AJI MUMPUNG MAHA AKBAR – AMMA (1/3)

(SEUNTAI KATA-KATA DAKWAH YANG SERING DILUPAKAN OLEH PARA JURU DAKWAH)

Penggunaan kata mumpung yang kemudian diberatkan dengan awalan aji sehingga menjadi aji mumpung tidaklah asing bagi setiap insan Indonesia, dan juga bagi orang-orang asing. Bahasa Inggrisnya adalah “while” dan “taking advantage of the opportunity”. Sinonim dari mumpung adalah selagi dan senyampang. Sementara itu aji mumpung sering dikonotasikan kepada hal-hal yang negatif walau pun sekali-sekali – di lain pihak - justru sangat-sangat positif bagi yang mau memanfaatkan.

Beberapa contoh: ·       “Mumpung di Lembang, ayo ke tempat peneropongan bintang Boscha.” Hasilnya: Tambah ilmu pengetahuan. ·       Mereka berbelanja sebanyak-banyaknya dengan alasan mumpung barang-barangnya lagi diobral. Hasilnya: Memperoleh materi atau stok banyak. ·       Rupanya Bapak itu menerapkan kata aji mumpung jadi kepala sehingga ia memperlakukan anak buahnya dengan semena-mena. Hasilnya: Kekuasaan yang besar. ·       Kamu jangan menerapkan kata aji mumpung punya kedudukan agar kamu terjaga dari peri laku tidak korupsi. Hasilnya: Jadi orang saleh. Semua yang di atas itu hanyalah sekedar contoh-contoh kecil (sughro) dari penerapan kata mumpung dan aji mumpung, di mana hal yang menyebabkan diperolehnya penghasilan dari kerja mumpung yang bersifat sementara itu, yaitu tempat, waktu, jabatan dan lain-lain, menjadi akan musnah, terputus atau tidak berlaku lagi. Lalu kata mumpung yang bagaimanakah yang bersifat akbar atau kubro yang menjadikan penghasilan dari penerapan kata mumpung itu tidak menjadi musnah atau terputus sehingga tetap berlaku bahkan abadi untuk selama-lamanya? Jawabnya: Itulah Mumpung Masih Hidup.

Lantas apa yang dilakukan pada waktu mumpung masih hidup? Jawabannya banyak, walaupun pada permulaannya sangat berat untuk memulainya (kecuali bagi mereka yang sudah insaf akan apa arti kehidupan ini), namun begitu sudah menjadi kebiasaan, rasa berat itu akan hilang begitu saja dan terganti oleh perasaan senang yang nagih dan mengasyikkan seperti layaknya menggeluti sebuah hobi. “Demi masa, sesungguhnyalah manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling nasehat-menasehati demi kebenaran dan saling nasehat-menasehati demi kesabaran.” (Al Qur’an 103: Al ‘Ashr). a.     Beriman artinya berkepercayaaan, yang dalam hal ini adalah kepada: 1. Alloh. 2. Malaikat. 3. Kitab-kitab Alloh. 4. Rosul (Utusan) Alloh. 5. Hari Kemudian (Kiamat). 6. Qodho dan Qodar. b.     Mengerjakan Kebajikan adalah terjemahan dari beramal saleh, yaitu segala pekerjaan baik yang didasari pada iman yang ikhlas, bernilai ibadah dan bermanfaat buat diri sendiri, sesama dan lingkungan. Semua ini dalam kesehariannya terangkum dalam: 1. Habluminalloh. 2. Habluminannas. 3. Amalan Baik Dalam Lingkungan Kehidupan Sehari-hari . 4. Amalan Yang Bisa Terus Mengalir (alias amalan jariyah). Lihat penjelasannya pada Artikel AMMA terkait di halaman-halaman 2/3 dan 3/3.